April 14, 2009

Andai Aku Jadi Tutor (2)


“Andai Aku Menjadi Tutor” di sana.. Seperti cerita-cerita di televisi saja. Butuh perjuangan untuk melewati medan, dan masih harus berjalan memanjat menaiki tebing sejauh hampir 100 meter. Setelah istirahat sebentar, ku langsung mengenalkan diri pada ibu-ibu (dan nenek) serta seorang bapak yang menjadi warga belajar program pemberantasan buta aksara. Alhamdulillah, meski harus belajar di tempat yang tidak begitu terang,di dalam rumah warga yang terbuat dari gubuk bambu dan duduk beralasan karung goni.. Terasa menjadi suasana yang berbeda..

Aku mulai menuliskan huruf-huruf secara acak.. Alhamdulillah sudah banyak warga belajar yang sudah hafal, hanya ada 1-2 orang yang sangat kesulitan, karena memang dari kecilnya belum pernah mengenal huruf dan angka, belum pernah sekolah, pun untuk kelas 1 SD saja.
Lalu belajar mengeja suku kata, dan kata-kata sederhana.. Mencoba ku buat kalimat sederhana yang bisa mengena dan dekat dengan kehidupan mereka, hingga kami pun tertawa bersama..
Dua jam aku mengajar di sana, sedianya aku hanya monitoring dan mengambil dokumentasi saja. Tapi karena permintaan Pak Siswo untuk aku bergantian yang mengajar, akhirnya tak mampu aku menolaknya. Hingga 2 jam mengisi kegiatan belajar, lalu warga belajar pemilik rumah menyediakan suguhan, air the tawar dan jagung putih rebus. Akhirnya makanlah aku siang itu dengan jagung, alhamdulillah ada pengisi perut.

Perjalanan hari itu, belum usai.. Aku tidak ada persiapan untuk menginap di lokasi. Namun, saat itu ku putuskan untuk bermalam di rumah keluarga kepala dukuh Jelok Watugajah yang lokasinya juga di atas gunung. Dari puncak gunung Watulawang yang berada di ujung barat, aku menuju puncak gunung Jelok yang berada di ujung timur. Sesampainya di sana, sebanyak 40an lebih warga belajar sudah berkumpul di masjid karena sudah dikabarkan oleh tutor local di sanauntuk pengambilan foto. Alhamdulillah, tutor-tutor di Jelok dapat bekerja sama dengan baik dan membantuku menemui warga belajar di sana. Keluarga Pak Dukuh di Jelok sangat kekeluargaan. Pertama kali aku berkunjung di sanasudah disambut dengan sangat baik. Di sanalah aku bisa makan dan tidur, sudah seperti posko sendiri.

Selepas magrib, bu dukuh sudah menyediakan makan malam. Alhamdulillah khirnya makan bersama dengan oseng-oseng buncis dan telur. Duduk sebentar menunggu isya’ kemudian setelah jam7malam mulai berangkat menuju rumah warga belajar di Jelok. Sampai jam10 malam aku berkunjung ke rumah-rumah warga belajar yang sorenya tidak dapat hadir di masjid untuk pengambilan foto. Akhirnya aku harus jemput bola ke rumah-rumah warga. Untungnya ada putri Pak dukuh yang menemaniku untuk mendatangi warga. Sekitar jam10 kembali ke rumah pak dukuh, rasanya udah capek sekali karena seharian belum istirahat. Pak dukuh dan bu dukuh mungkin juga sudah capek jadi tidak sempat ngobrol-ngobrol santai bercerita seperti kali pertama aku menginap di sana.

Dan akhirnya, aku pun masuk ke kamar dengan putri Pak dukuh.. Alhamdulillah, rasanya nikmat sekali. Bisa merebahkan badan setelah seharian berjalan dan hunting warga belajar. Di dalam kamar itu, aku memaknai kembali perjalanan hari itu.. Uhhhm, alhamdulillah… hanya rasa saat itu yang berbicara. Akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.. tidur di dalam kamar berbatas bamboo yang bersebelahan dengan kandang sapi dan ayam.

“Teruntai doa, semoga program bisa berhasil dan meluluskan 1,000 orang warga buta untuk team project di Kecamatan Gedangsari Gunungkidul.. Semangat!!”

Ya Tuhan, semoga, saudara-saudaraku di sana selalu sehat dalam ridho-MU.. amien..
~end~

(Sumber: "Coretan Annisa" http://niesnies.multiply.com/journal)

0 komentar:

Poskan Komentar

Album Foto PBA UGM
Free Photo Albums by Bravenet.com
Buku Tamu PBA UGM
Free Guestbooks by Bravenet.com

ShoutMix chat widget
Free Calendar from Bravenet.com Free Calendar from Bravenet.com