April 14, 2009

Andai Aku Jadi Tutor (1)


Hari itu, aku sejenak ikut beramah tamah dengan ibu-ibu warga belajar yang sedang berkumpul di rumah Bapak Siswo. Tertawa bersama, ku tersenyum mendengar cerita dari seorang ibu (nenek) yang cantik hari itu dengan kebaya merahnya. Di Hari Ibu, mereka menceritakan kerinduan kepada anak-anaknya yang merantau keluar kota untuk bekerja di pabrik.. Ada juga yang menjadi pembantu rumah tangga di Kota Jakarta.

30 menit aku duduk bersama mereka, kemudian Pak Siswo sudah memberi kode untuk berangkat menuju Watulawang, karena Jam01.00 siang itu, ada kegiatan pembelajaran di sana. Dengan membawa kendaraan sendiri Yamaha 80-an, Pak Siswo mengawal di depan. Melewati tempat penambangan batu-batu krakal.. Lalu jalan terus menaik dan berbelok, di atas tebing yang tinggi.

Andai saja tidak ada pepohonan di pinggir-pinggir jalan, aku sudah phobia ketinggian, melihat ke bawah. Jalan berbatu, dua tapak, dan kadang melewati jalan becek. Sesampainya di atas, kami berhenti di dekat sungai kecil yang sekelilingnya kebun dan sawah. Aku tidak tahu, kenapa berhenti di sana. Lalu aku bertanya pada Pak Siswo, “sudah sampai Pak?” Lalu Pak Siswo hanya menunjukkan tangannya ke atas, “panggone neng dhuwur, motore diseleh kene” (maksudnya “tempatnya di atas sana, motornya ditaruh sini”)

Waw.. aku melihat ke atas, dan masih belum paham, tidak nampak ada rumah warga di sana. Ternyata oh ternyata.. Kami harus naik tebing itu dan memanjat dengan kemiringan medan 70 derajat. Ada jalan setapak yang biasa digunakan warga untuk naik ke atas. Karena pada setiap ketinggian, hanya ada 1 rumah penduduk. Di atasnya, ada 1 rumah penduduk lagi, sampai di atas (puncak tebing) ada kira 2-3 rumah yang berdekatan. Dengan nafas yang terengah-engah aku terus mengikuti Pak Siswo, naik ke atas. Dengan memanjat, aku harus berpegangan ke batu didepanku, karena takut terpeleset. Yah, setiap kali berhasil naik di satu ketinggian, rasanya agh, akhirnya.

Sesampainya di atas, aku serasa ingin merebahkan badan, capek banget… Keringat dingin keluar dari sela-sela kerudungku.. Dan kaki pun terasa gemetaran. Aku melihat Pak Siswo sudah masuk ke dalam rumah warga, beliau langsung duduk dan merebahkan badan di kursi kayu yang panjang. Ah, mungkin Pak Siswo juga pasti capek. Aku saja sudah terengah-engah dan gemetaran. Aku sejenak memandang ke bawah.. Rasa ingin menangis tapi didalam hati saja. Tapi mata pun basah berlinang.. Aku teringat sms ibu, “hati-hati, met berjuang”


(Sumber: "Coretan Annisa" http://niesnies.multiply.com/journal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Album Foto PBA UGM
Free Photo Albums by Bravenet.com
Buku Tamu PBA UGM
Free Guestbooks by Bravenet.com

ShoutMix chat widget
Free Calendar from Bravenet.com Free Calendar from Bravenet.com