Kira-kira sebelas minggu yang lalu, saya masih nggak habis pikir kenapa masih harus ada KKN (Kuliah Kerja Nyata) di almamater saya sebagai syarat kelulusan. Setahu saya, di banyak Perguruan Tinggi Negeri lain, program semacam itu sudah diganti dengan Praktek Kerja Lapangan atau semacamnya. Setidaknya, program yang saya sebutkan terakhir, bisa lebih berkesinambungan dengan teori-teori yang dipelajari mahasiswa di bidangnya masing-masing. Kasarannya, yang ada di benak saya kala itu, kalau anak sospol seperti saya --apalagi hubungan internasional-- harus membangun kamar mandi umum atau gapura kala KKN, itu nggak nyambung sekali dengan teori-teori politik luar negeri yang kami pelajari. Tapi kalau yang harus dilakukan adalah Praktek Kerja semisal magang di Deplu atau semacamnya, nah, itu baru oke.
Sembilan minggu yang lalu, akhirnya berangkat juga saya --tentu bersama rekan-rekan lain-- ke lokasi KKN PBA di Wonosobo. Jangan bayangkan kota Wonosobo yang bersih dan asri. Kami ditempatkan di sebuah kecamatan yang secara geografis sebenarnya nggak terlalu jauh dari kota, hanya saja aksesnya --ya ampun-- sulit sekali. Selain terletak di ketinggian (di kaki Gunung Sumbing), jalan masuk ke desa-nya sangat keriting. Teman-teman menyebutnya kali asat (sungai kering), karena benar-benar mirip dasar sungai yang airnya menguap semua: tanah dengan batu-batu besar bertebaran, yang kalau cuaca sedang panas jalan menjadi sangat berdebu, tapi kalau sedang hujan sangat licin.
Tujuh minggu yang lalu, saya mulai beradaptasi dengan kondisi lokasinya. Dengan jalan-jalannya, dengan cuacanya yang sangat dingin (bahkan kadang kabut sangat tebal pada jam 12 siang!), dengan makanannya, tapi tidak dengan masyarakatnya. Belum. Saya masih belum terbiasa dengan kehidupan yang sangat sosialistis --walaupun saya anak sospol-- di tengah masyarakat yang hampir selalu memperhatikan dan mengomentari setiap detil hal yang kita lakukan. Seperti selebritis saja rasanya.
Sekitar tiga minggu lalu, hampir di ujung berakhirnya KKN PBA, saya baru menyadari satu hal. KKN ini sangat berarti buat hidup saya. Itu pun setelah saya mengalami banyak sekali konflik, baik dengan perangkat desa, dengan induk semang, dengan rekan-rekan KKN, sampai dengan kekasih saya. Saya bangun dari tidur yang selama ini terlalu nyenyak. Saya hidup terlalu enak tanpa tahu banyak orang kesusahan. Oke, saya memang sering lihat dan dengar, paling tidak di TV. Tapi saya tidak pernah hidup di tengah-tengah mereka secara langsung. Saya hidup terlalu 'sendiri', karena sangat jarang merasa butuh orang lain. Tapi ternyata tidak. Saya baru sadar bahwa saya sangat membutuhkan orang lain. Saya belajar bahwa banyak sekali orang yang kesulitan, tapi mereka tetap saling membantu. Selama ini saya hidup hampir tidak pernah sulit, tapi hampir tak pernah pula membantu orang lain.
Seminggu yang lalu kami menyelesaikan masa KKN PBA. Saya langsung pulang ke kampung halaman. Saya memulai semester yang baru minggu ini, berharap juga memulai sebuah kehidupan yang baru di bulan suci ini. Mengubah cara pandang saya dalam menjalani hidup. Semoga menjadi lebih baik. Amin.
sumber: http://dita-raditya.blogspot.com


0 komentar:
Poskan Komentar