Oktober 06, 2009

Saya sudah bisa membaca dan menulis...


Waltinem, warga belajar Program Inovasi Keaksaraan Universitas Gadjah Mada (PInK UGM) sekarang sedikit-sedikit sudah bisa membaca dan menulis. Coretan polos Ibu yang sehari-hari bekerja sebagai buruh ini menunjukkan semangat yang luar biasa untuk bisa menulis dan membaca. Sang Tutor yang telah mengajar Ibu Waltinem ini merasa bangga dengan perkembangannya yang cukup pesat. Awalnya Ibu Waltinem hanya bisa mengucapkan abjad karena hapal mendengarkan putranya apabila sedang menyanyikan lagu ABCD, tanpa tahu seperti apa tulisannya. Kini setelah mengikuti kegiatan pembelajaran sang Ibu sudah bisa membaca dan menulis walaupun masih harus dibimbing.

Ketika Cinta Bicara...


Ingatanku melayang di tahun 2006 saat pertama kali aku bersinggungan dengan program Pemberantasan Buta Aksara (PBA). Waktu itu kejadiannya ketika Prof. Retno Sunarminingsih Sudibyo, M.Sc.Apt. selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat melontarkan sebuah ide untuk dilaksanakannya PBA dengan mengoptimalkan peran dan fungsi mahasiswa UGM melalui KKN PPM dengan menerapkan Paket Ajar Baru berbahasa Ibu yang pada saat itu juga belum tersedia. Artinya ada dua hal besar yang harus aku lakukan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu menyusun Paket Ajar Baru  Berbahasa Ibu meliputi Buku Ajar dan Poster serta mendisain kegiatan PBA melalui KKN PPM yang notabene dilaksanakan selama 2 (dua) bulan. Padahal disain yang dilakukan pemerintah 6 (enam) bulan. Masalah demi masalah silih berganti menyertai perjalanan  panjang mewujudkan cita-cita tersebut.

Permasalahan muncul  ketika Program ini ditawarkan secara terbuka kepada mahasiswa yang akan berKKN PPM, tema kami kurang popular di kalangan mahasiswa. “wach programe mulang wong tuwa maca,nulis kaya mulang bocah SD” artinya “Wach programnya mengajar  orang yang sudah tua membaca, menulis seperti layaknya mengajar anak SD”. Alhamdulillah kondisi awal ini berbanding terbalik ketika kami coba jelaskan bahwa “ kalau tidak kita, siapa lagi”. Subhanallah…jumlah mahasiswa pendaftar melebihi kuota..akhirnya dengan berat hati kami harus menolak bahkan mengalihkan mereka ke tema-tema yang lain.

Astaghfirullah.. sambil berlinangan air mata wajah-wajah ceria laskar-laskar PBA berubah menjadi pucat pasi ketika tahu lokasi KKN PPM…kejadian ini terjadi ketika perpindahan lokasi yang mendadak ketika mahasiswa sudah di lapangan yaitu di Kabupaten Sampang Madura..kepindahan mereka ke sebuah lokasi yang dikenal sebagai lokasi pengasingan orang-orang berpenyakit kusta yang dikenal dengan sebutan Pulau Kambing. Letak pula harus menyeberang laut menggunakan perahu motor kurang lebih 30—60 menit. Aku merasa terpukul karena 18 (delapan belas) mahasiswa yang kami terjunkan merupakan tanggung jawabku..bagaimana kejadiannya kalau orang tua mereka menuntut dikarenakan perubahan ke lokasi yang di luar dugaan. Subhanallah..masalah ini teratasi. Keberadaan mahasiswa menjadi nilai sendiri baik oleh masyarakat setempat, pemerintah maupun perguruan tinggi lain yang kebetulan juga melakukan PBA.

Permasalahan tidak berhenti sampai disini..penunjukan dosen sebagai Dosen Pembimbing Lapangan juga mengalami kendala yang sangat berarti karena jujur aku katakana tidak banyak orang yang mau bersakit-sakit dahulu, artinya dosen yang awalnya setuju mendampingi mahasiswa, satu persatu dengan berbagai alas an mengundurkan diri. Akhirnya aku memberanikan diri membimbing mahasiswa untuk lokasi terjauh dan tersulit. Empat kabupaten di Pulau Madura menjadi wilayah kerjaku.Subhanallah….kemudahan-kemudahan aku dapatkan selama kegiatan berlangsung tanpa mengurangi permasalahan-permasalahan yang ada meski bagi orang lain sangat berat. Aku ingat ketika ada seorang polisi yang mengatakan “Ibu itu melebihi orang Madura”. Ini terlontar ketika di tengah malam buta saya dengan membawa (setir) mobil carteran sendiri tersesat dalam perjalanan dari   Pamekasan ke Bangkalan.

Inilah sepenggal kisah perjalanan sebuah kegiatan yang benar-benar bisa merubah “wajah dunia” kita dan dunia sesungguhnya..dengan bekal tekad kuat “Ifdak binafsih” “mulailah dari diri sendiri” untuk berbuat dan “cinta” maka semua halangan rintangan yang  menyertai setiap langkah akan berujud sebagai kekuatan yang luar biasa. Inilah hidup yang sesungguhnya, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

(Dikisahkan oleh wiwien widyawati rahayu)

Api Semangat untuk Maju dari Pinggiran Yogya


Program Inovasi Keaksaraan 2009 di Kecamatan Godean terselenggara atas kerjasama Dinas pendidikan Nasional dan Universitas Gadjah Mada. Program ini kemudian kita sebut dengan PInK UGM 2009, dan telah dilaksanakan mulai akhir Agustus dan berakhir pada 12 September  2009 ini. Kegiatan ini disambut dengan senang oleh  warga Godean, Sleman, Yogyakarta dengan sukacita. Kebanyakan dari warga yang masih terbelenggu buta aksara merasa mempunyai kesempatan lagi untuk bisa berkembang. Mereka tidak ingin tersisih dan terasing di era serba komputerisasi ini. Mereka sangat ingin diakui oleh masyarakat umum bahwa mereka juga bisa berkembang dan maju walau hanya selangkah demi selangkah dengan bisa membaca, menulis dan berhitung.

            Proses pembelajaran berjalan dengan baik. Kegiatan pembelajaran biasanya dilaksanakan pada malam hari dimana warga belajar mempunyai waktu lebih luang. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama 2.5 jam 4 kali dalam seminggu. Warga belajar merasa menjadi anak SD kembali. Mereka yang kebanyakan adalah ibu-ibu tidak merasa segan membawa anak atau cucu mereka untuk bersama-sama belajar.

            Dalam proses pembelajaran ada kemudahan dan kesulitan yang dihadapi oleh tutor. Hal ini disebabakan karena warga belajar memepunyai kemampuan yang berbeda. Kemampuan warga belajar dipengaruhi oleh faktor umur dan background pendidikan dasar yang pernah diambil. Ada warga belajar yang dapat menangkap materi dengan mudah namun juga ada juga yang daya tangkap materinya sangat kurang. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus bagi mereka yang belum lancar membaca, dan menulis. Untuk materi berhitung kebanyakan warga belajar sudah lancar. Sehingga tutor tinggal mengulang kembali dan banyak melakukan latihan soal.

            Warga belajar memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti Program Inovasi Keaksaran ini. Mereka dapat mendapatkan ilmu sehingga terlepas dari buta aksara. Selain itu mereka mendapatkan banyak keterampilan seperti membuat manisan jipang yang kaya vitamin C maupun ketrampilan lainnya. mereka juga sangat senang karena mendapatkan fasilitas gratis dari pemerintah untuk belajar seperti buku pelajaran maupun alat tulis. Kegiatan ini juga menjadi tempat untuk saling bersilaturahmi dan bertukar penegetahuan antara warga, tutor dan mahasiswa. Selain itu warga juga termotivasi karena adanya dana motivasi pembelajaran yang akan didapatkan di akhir kegiatan.

            Sebagai salah satu tutor PInK UGM, Pak Suryanto merasa bangga dengan warga belajarnya yang sangat antusias belajar. Walau tertinggal mereka tidak merasa malu untuk belajar. Selain itu Pak Suryanto juga mempunayi harapan agar kegiatan PInK UGM ini dapat berlanjut lagi hingga warga belajarnya dapat belajar setingkat SMP. Selain itu Pak Suryanto juga menganjurkan agar program ini tidak bertumbukan dengan bulan Ramadhan agar proses belajar lebih fokus.

Garda Depan Pemberantasan Buta Aksara UGM


Ya. Laskar PBA. Terinspirasi oleh Laskar Pelangi, para Mahasiswa PBA UGM menamakan diri Laskar PBA. Diakui atau tidak, laskar-laskar ini merupakan garda depan program PBA UGM. Medan terjal, jauh dari peradaban, maupun lokasi di ping-giran kota dengan segala fasilitas yang ada, sama-sama mempunyai tantangan yang berbeda. Berikut profil singkat para Koordinator Program Inovasi Keaksaraan (PInK) UGM.

 

Endang Zainal Asikin

Koordinator Mahasiswa Kab. Sleman. Mahasiswa Fakultas Pertanian ini sangat mudah dikenali. Dengan badan yang cukup tambun dan supel, membuat para warga belajar selalu menantikan kedatangannya. Apalagi dengan kemampuannya berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, maupun Bahasa Sunda.

 

Bambang Suprayogi

Koordinator Mahasiswa Kab. Banjarnegara. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini asli Jawa namun lama tinggal di Lombok, NTB sehingga kemampuan bahasa Jawanya sekarang berkurang. Sangat hobi mendiskusikan berita terkini tentang hukum dan politik dimanapun dan dengan siapapun.

 

Andri Wibowo

Koordinator Mahasiswa Kec. Kalibening. Mahasiswa Fakultas Hukum ini mempunyai sikap ramah, nJawani, berjiwa humoris, dan bertanggung jawab. Dia menyebut dirinya sebagai salah satu si Jubang (Pejuang Bangsa) yang dengan semangat “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” senantiasa setia mengibarkan bendera PBA di manapun dan kapanpun.

 

Andi Satriono

Koordinator Mahasiswa Kec. Pejawaran. Mahasiswa Fakultas Teknik asal Medan ini berwajah imut, baik hati, ramah serta mempunyai semangat juang tinggi. Tak ayal pula motto pantang menyerahnya sangat kental, salah satunya “selalu ada waktu yang terbaik untuk memperbaiki kesalahan”.

 

Mara Osca

Koordinator Mahasiswa Kec. Pandanarum. Mahasiswa Fakultas Teknik asal Pemalang ini cenderung pendiam, tapi saat bicara maka terlihatlah jati dirinya sebagai salah satu garda depan PBA yang cerdas. Motto hidupnya adalah “alon-alon waton ra keselip”

Monitoring dan Evaluasi Pembelajaran di Kabupaten Sleman, DIY


Monitoring dan evaluasi (monev) kegiatan pembelajaran Program Inovasi Keaksaraan Universitas Gadjah Mada (PInK UGM) di Kecamatan Godean  dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2009. Tim Monev kali ini diikuti oleh Dr. Abdurakhman, M.Si -  sebagai Koordinator Bidang Program, Baha’ Uddin, M.Hum - Koordinator Bidang Operasional, Syarif Hidayatullah, MA - Koordinator Bidang Pelaporan, dan Dra. Sumarsih, M.Hum - Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta didampingi oleh para Mahasiswa Pendamping Keaksaraan PInK UGM 2009.

            Lokasi yang menjadi tujuan monev kali ini adalah Kelompok Belajar Dusun Klajuran, Desa Sidokarto dan Kelompok Belajar Dusun Gancahan VII, Desa Sidomulyo.

            Rombongan team berangkat dari Jogjakarta pada pukul 18.00 WIB dan bekumpul di RM Arwana dekat kelompok belajar yang akan dikunjungi pertama yaitu Dusun Klajuran. Setelah rombongan berkumpul dan makan malam, mereka langsung menuju lokasi dijemput dua orang MPK Godean. Perjalanan ke lokasi dari tempat berkumpul tadi dibutuhkan waktu 5-10 menit  naik mobil dan ditambah jalan kaki melewati gang kecil. Di lokasi pembelajaran Dusun Klajuran sedang dilaksanakan ujian keaksaaan tingkat dasar. Tim Monev memantau ujian sembari berinteraksi dengan warga belajar dan mengambil gambar untuk dokumentasi.

Setelah itu, tim didampingi dua orang MPK bergerak menuju lokasi target yang kedua, yaitu dusun Gancahan VII di sisi selatan Desa Sidomulyo. Mereka bertolak dari Klajuran pukul 19.30 WIB dan perjalanan menuju tempat sasaran monev kurang lebih 15-20 menit. Kelompok belajar Gancahan VII sedang melakukan pembelajaran berhitung. Tim Monev kemudian berinteraksi dengan warga belajar dan tutor. Mereka bertanya seputar masalah pembelajaran, menguji warga untuk membaca, menulis dan berhitung. Rata-rata warga sudah bisa karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang dan tentunya sering berinteraksi di pasar. Tutor di G7, sebutan Dusun Gancahan VIII oleh MPK, merupakan seseorang yang sudah terkenal mahir mengajar walaupun hanya seorang buruh tetapi reputasinya dalam mengajar tidak diraguan lagi.

Tim pulang dari Gancahan VII pada pukul 22.00 WIB setelah mereka menyantap suguhan yang disediakan oleh Ibu Dukuh.

 

Monitoring dan Evaluasi Pembelajaran di Kabupaten Banjarnegara


Pada tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu, Tim PBA UGM bersama Tim Dekanat Fakultas Ilmu Budaya UGM didampingi Penilik PLS Kabupaten dan Kecamatan Lokasi PInK UGM di Kabupaten Banjarnegara mengada-kan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (monev).

            Tim Monev berkumpul di Pasar Batur, yang merupakan akses mudah di jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Wonosobo dengan Banjarnegara via Pegunungan Dieng. Setelah rombongan berkumpul langsung menuju Kantor Dinas Pendidikan Kecamatan Pejawaran, dan sudah ditunggu oleh Penilik PLS Kecamatan Pejawaran, Ibu Resmi Budi Astuti. Perjalanan ke lokasi dari Kantor Dinas membutuhkan waktu 20-30 menit. Memasuki perbatasan desa, Team Monev lang-sung menemui jalan aspal yang sudah rusak, setelah masuk dusun tersebut menemui jalan berbatu yang tertata (rolakan), tentunya sudah rusak juga. Lokasi pembelajaran tidak dapat ditempuh dengan kendaraan roda. Sehingga rombongan  berjalan kaki kurang lebih 10 menit melalui jalan masuk kampung/pemukiman dan menanjak. Saat tiba di lokasi pembelajaran, tutor telah memulai pembelajaran, Tim  langsung masuk dengan membawa instrumen monev yang telah disediakan sekretariat PBA UGM dan langsung duduk sambil mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran dilakukan di salah satu rumah warga dimulai pada pukul 14.00 karena aktifitas warga di ladang telah selesai dan mengantisi-pasi masalah penerangan dan kondisi jalan di dusun tersebut.

            Tim Monev melakukan interaksi dengan warga belajar (WB) dan tutor di kelompok tersebut yang merupakan guru wiyata SD. WB diminta untuk maju dan menulis identitas dirinya dipapan tulis. Tingkat kemampuan WB beraneka ragam, ada yang mampu menyelesaikan, dan ada juga yang terbata-bata dalam menulis. Kelompok Belajar (KB) di dusun ini melakukan aktifitas pembelajaran 3 kali dalam seminggu, karena warga meminta seperti itu. Selepas kegiatan monev, tuan rumah menyuguhkan makanan sebagai kebiasan warga di desa bila ada yang berkunjung. Menu yang di hidangkan adalah nasi jagung, dengan ikan asin, dan langsung dilahap oleh Tim Monev. Bukan itu saja, nasi jagung segera dibingkuskan oleh tuan rumah sebagai oleh-oleh.

            Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, kurang lebih 60 menit Tim di KB tersebut, saatnya perjalanan di lanjutkan. Perjalanan ke lokasi berikutnya kurang lebih 45 menit sampai kantor kecamatan, ditambah 15 menit sampai lokasi, bahkan bisa lebih jika belum terbiasa dengan medan yang akan dilalui.

            Pukul 16.10 tim telah tiba di lokasi berikutnya. Dan sudah ditunggu oleh Bapak Tamim (Penilik PNFI Kab. Banjarnegara) dan Bapak Suhar Sulasmono (Penilik Kec. Kalibening). Pukul 16.30 Tim langsung menuju KB Dusun Bungkaran, Plorengan. KB yang akan di kunjungi diampu secara bersama-sama oleh 3 tutor, dirumah Kepala Dusun. Perjalanan ke lokasi dari jalan desa harus dilakukan dengan jalan kaki, dikarenakan medan yang tidak bisa dilalui kendaraan roda 4. Sesampainya di lokasi, para Penilik dan Tim Monev masuk membaur dengan warga belajar yang tengah mengikuti kegiatan pembelajaran. Kurang lebih 45 menit pembelajaran dipantau, tutor yang bergantian mengajar cukup aktraktif, WB diajak untuk bernyanyi dengan membaca huruf dan angka, agar WB tetap semangat komunikasi tutor dan WB dilakukan dengan menggunakan bahasa setempat. WB terlihat sangat semangat, walaupun hari mulai gelap dan penerangan tidak memadai karena dusun tersebut masih menggunakan kincir air untuk menghidupkan listrik di desa mereka.

            Timbul pertanyaan, mengapa mereka tidak menggunakan PLN sebagai pilihan. Jawaban yang muncul, karena warga telah terbiasa, dan enggan untuk memasang listrik PLN walaupun sudah berulang kali di anjurkan memasang oleh perangkat Desa Plorengan. Waktu sudah menunjukkan 17.15  saatnya rombongan bergegas meninggalkan lokasi dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikut yaitu KB Dusun Lengsar, Lawen, Kec. Pandanarum. Sebelum menuju lokasi pembelajaran, waktu Maghrib telah tiba, dan tim terlebih dahulu beristirahat dan sholat Maghrib di rumah Kepala DesaLawen, Pandanarum. Kurang lebih pukul 18.00 rombongan tiba di rumah Kepala Desa Lawen, untuk beristirahat dan makan malam.

            Pukul 19.00 kegiatan dilanjutkan lagi, rombongan bertambah dengan kedatangan Bapak Lanang Sutrisno, Penilik PLS Kecamatan Pandanarum. Jalur yang dipilih adalah jalur yang relatif aman, dikarenakan ada jalur alternatif yang lebih dekat melalui jalan desa, namun tanjakan terlalu berbahaya, sampai kemiringan 75 derajat. Kurang lebih 45 menit rombongan tiba dilokasi, dikarenakan ada 2 titik jalan yang amblas karena kontur tanah, terlebih tidak ada penerangan jalan yang memadai, sehingga masuk ke dalam Dusun Lengsar agak terkendala. Sekitar 45 menit Tim ada di lokasi pembelajaran yang sempit dan di penuhi WB. Tim banyak berdiri memperhatikan kegiatan di luar rumah. Warga di dusun ini lebih memilih melakukan pembelajaran di rumah Kepala Dusun, walaupun sebenarnya ada gedung sekolah yang lebih memadai. Dan ada yang menarik juga, bahwa jika ada warga yang tidak datang karena berhalangan hadir, biasanya ada juga warga yang ikut-ikutan tidak hadir. Sehingga triknya, pembelajaran dilakukan di rumah tokoh masyarakat.

            Pembelajaran di dusun ini memang agak kurang efektif dari biasanya, tutor yang hadir hanya 1 orang karena sehari sebelumnya semua tutor yang pekerjaan sehari-hari guru baru selesai mengadakan aktifitas perkemahan dalam rangka Hari Pramuka.

            Pukul 20.15 menit rombongan mengakhiri kunjungan. Karena masih ada kelompok belajar lain yang pembelajarannya berakhir pukul 22.00, Tim berinisiatif untuk melihat pembelajaran tersebut atas rekomendasi Penilik Kecamatan Kalibening. Membutuhkan waktu 45 menit ke lokasi berikutnya. Kurang lebih pukul 21.00 rombongan tiba di lokasi namun hanya Tim Teknis dan Penilik Kalibening. Sedangkan Tim Dekanat, Penilik Kabupaten, dan Penilik Kecamatan Pandanarum tidak bisa turut serta, karena keesokan harinya sudah ada acara lain. Lokasi pembelajaran di Balai Desa Karanganyar. Khusus KB ini, pembelajaran dilakukan setiap hari selama 1 bulan, dan memang kesepakatan warga, karena bulan puasa mereka banyak disibukkan kegiatan keagamaan. Sehingga dapat terlihat memang perbedaan kemampuan warga di KB ini dibandingkan KB yang sebelumnya dikunjungi. Pukul 22.00 kegiatan Monev di akhiri di KB Karangtengah, Karanganyar, Kalibening. Tim Teknis PInK kembali ke Lawen untuk beristirahat. Hari yang cukup melelahkan, dimulai pukul 13.00-22.00, mengunjungi 4 lokasi rute Pejawaran - Kalibening - Pandanarum - Kalibening - Pandanarum. Namun rasa lelah itu terobati oleh antusiasme dan semangat WB mengikuti kegiatan PInK UGM. Sebuah catatan kecil tentang semangat untuk hidup lebih baik.

Juli 13, 2009

Langkah Awal PInK UGM

Seperti yang sudah direncanakan, rangkaian kegiatan Program Inovasi Keaksaraan (PInk) UGM mencakup tiga bagian yaitu pra-kegiatan, kegiatan, dan pasca kegiatan. Terdapat beberapa perubahan dari rencana terutama menyangkut lokasi kegiatan penyelenggaraan program. Pada awalnya, kegiatan PInk ini direncanakan akan dilaksanakan di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Namun setelah dilakukan koordinasi antara tim PBA dengan Dinas Pendidikan dan Bapeda Kabupaten Purbalingga, terdapat beberapa kendala teknis yang mengakibatkan Pemda Purbalingga belum siap melaksanakan program ini pada tahun 2009.

Untuk itu Tim Pelaksana PBA UGM kemudian melakukan koordinasi dengan pemda lainnya yang sudah mempunyai kerjasama dalam bidang PBA dengan UGM yaitu Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, DIY. Hasil koordinasi dengan 2 kabupaten itu adalah bahwa kedua pemda tersebut (dalam hal ini Dinas Pendidkan Kabupaten) siap bekerjasama dengan UGM untuk menyelenggarakan program PInk. Sebagai informasi, pendataan warga belajar di kedua kabupaten itu sudah dilaksanakan pada bulan Maret – April 2009. Oleh karena itu Tim Pelaksana PBA UGM kemudian menyepakati untuk melaksanakan program PInk ini di kedua kabupaten itu dengan jumlah total warga belajar sejumlah 1420 orang. Berikut ini adalah langkah awal kegiatan PInK.


Rekrutmen Mahasiswa Pendamping Tutor

Rekrutmen mahasiswa sebagai tutor sudah dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei 2009 dengan komposisi dan jumlah mengacu pada kebutuhan sesuai dengan jumlah warga belajar. Jumlah mahasiswa yang direkrut sebagai tutor untuk program PInk ini adalah sebanyak 26 orang. Mahasiswa ini antara lain berasal dari Fakultas Ilmu Budaya, Ekonomika dan Bisnis, Isipol, Hukum, Pertanian, Kehutanan, MIPA dan Teknik. Selain mantan mahasiswa KKN, dan PLM (Program Layanan Masyarakat) PBA, mereka juga berasal dari fresh graduate dan fresh student. Dari jumlah itu, 17 orang mahasiswa akan bertugas menjadi pendamping tutor di Kecamatan Kalibening, Kecamatan Pandanarum dan Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara dan 9 orang mahasiswa bertugas di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman.

Pembekalan Tim dan Mahasiswa Pendamping Tutor

Pembekalan Tim dan Mahasiswa Pendamping Tutor sudah berhasil dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 27 – 28 Juni 2009 di Hotel Primitif, Kawasan Pantai Glagah, Kulon Progo. Berikut ini sesi acara pada kegiatan pembekalan tim dan mahasiswa pendamping tutor. Seperti biasanya materi pembekalan terdiri dari Overview Program, AMT, Teknis Operasional, Teknis Program dan Administrasi dan Pelaporan.


Lokasi Pelaksanaan PInk

Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa karena adanya beberapa kendala teknis di Kabupaten Purbalingga maka pelaksanaan program PInk UGM kemudian dilaksanakan di Kabupaten Banjarnegara dan Sleman. Sasaran warga belajar berjumlah 1420 orang yang tersebar di 3 kecamatan di Kabupaten Banjarnegara dan 1 kecamatan di Kabupaten Sleman. Lokasi kecamatan di Kabupaten Banjarnegara adalah Kecamatan Kalibening, Pandanarum dan Pejawaran, sedangkan di Kabupaten Sleman berlokasi di Kecamatan Godean. Perincian persebaran warga belajar adalah sebagai berikut:


Kabupaten Banjarnegara

Di Kecamatan Kalibening terdiri dari 249 warga belajar yang mencakup wilayah 2 desa yaitu Desa Plorengan dan Desa Karanganyar. Di Kecamatan Pandanarum terdiri dari 258 warga belajar juga mencakup wilayah 2 desa yaitu Desa Lawen dan Sinduaji. Sementara di Kecamatan Pejawaran terdiri dari 463 warga belajar yang mencakup wilayah 6 desa, yaitu Desa Gembol, Grogol, Jenggeran, Bandungan, Sidengok dan Pegundungan. Sehingga untuk Kabupaten Banjarnegara jumlah total warga belajar berjumlah 970 orang.


Kabupaten Sleman

Progam PInK di Kabupaten Sleman hanya mencakup satu kecamatan saja yaitu Kecataman Godean dengan jumlah warga belajar sebanyak 450 yang tersebar di 2 desa yaitu Desa Sidomulyo dan Sidokarto.


Verifikasi Tutor Keaksaraan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memastikan kesediaan Tutor Keaksaraan untuk berpartisipasi dalam program PInk. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memetakan kebutuhan tutor berdasarkan jumlah warga belajar di setiap wilayah kecamatan dan desa. Untuk wilayah Kabupaten Banjarnegara, data mengenai Tutor Keaksaraan sudah didapatkan dari Penilik PLS (Pendidikan Luar Sekolah) Dinas Pendidikan Kecamatan masing-masing, namun untuk memastikan kesediaan mereka perlu dilakukan verifikasi langsung kepada yang bersangkutan. Sementara itu untuk wilayah Kecamatan Godean, Sleman, mahasiswa langsung mencari Tutor Keaksaraan berdasarkan rekomendasi Penilik PLS kecamatan atau perangkat desa. Verifikasi Tutor Keaksaraan di Kecamatan Godean, Sleman dilakukan pada hari Jumat tanggal 3 Juli 2009, sedangkan untuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dilakukan pada hari Minggu dan Senin tanggal 5 dan 6 Juli 2009.

Album Foto PBA UGM
Free Photo Albums by Bravenet.com
Buku Tamu PBA UGM
Free Guestbooks by Bravenet.com

ShoutMix chat widget
Free Calendar from Bravenet.com Free Calendar from Bravenet.com