Oktober 06, 2009

Ketika Cinta Bicara...


Ingatanku melayang di tahun 2006 saat pertama kali aku bersinggungan dengan program Pemberantasan Buta Aksara (PBA). Waktu itu kejadiannya ketika Prof. Retno Sunarminingsih Sudibyo, M.Sc.Apt. selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat melontarkan sebuah ide untuk dilaksanakannya PBA dengan mengoptimalkan peran dan fungsi mahasiswa UGM melalui KKN PPM dengan menerapkan Paket Ajar Baru berbahasa Ibu yang pada saat itu juga belum tersedia. Artinya ada dua hal besar yang harus aku lakukan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu menyusun Paket Ajar Baru  Berbahasa Ibu meliputi Buku Ajar dan Poster serta mendisain kegiatan PBA melalui KKN PPM yang notabene dilaksanakan selama 2 (dua) bulan. Padahal disain yang dilakukan pemerintah 6 (enam) bulan. Masalah demi masalah silih berganti menyertai perjalanan  panjang mewujudkan cita-cita tersebut.

Permasalahan muncul  ketika Program ini ditawarkan secara terbuka kepada mahasiswa yang akan berKKN PPM, tema kami kurang popular di kalangan mahasiswa. “wach programe mulang wong tuwa maca,nulis kaya mulang bocah SD” artinya “Wach programnya mengajar  orang yang sudah tua membaca, menulis seperti layaknya mengajar anak SD”. Alhamdulillah kondisi awal ini berbanding terbalik ketika kami coba jelaskan bahwa “ kalau tidak kita, siapa lagi”. Subhanallah…jumlah mahasiswa pendaftar melebihi kuota..akhirnya dengan berat hati kami harus menolak bahkan mengalihkan mereka ke tema-tema yang lain.

Astaghfirullah.. sambil berlinangan air mata wajah-wajah ceria laskar-laskar PBA berubah menjadi pucat pasi ketika tahu lokasi KKN PPM…kejadian ini terjadi ketika perpindahan lokasi yang mendadak ketika mahasiswa sudah di lapangan yaitu di Kabupaten Sampang Madura..kepindahan mereka ke sebuah lokasi yang dikenal sebagai lokasi pengasingan orang-orang berpenyakit kusta yang dikenal dengan sebutan Pulau Kambing. Letak pula harus menyeberang laut menggunakan perahu motor kurang lebih 30—60 menit. Aku merasa terpukul karena 18 (delapan belas) mahasiswa yang kami terjunkan merupakan tanggung jawabku..bagaimana kejadiannya kalau orang tua mereka menuntut dikarenakan perubahan ke lokasi yang di luar dugaan. Subhanallah..masalah ini teratasi. Keberadaan mahasiswa menjadi nilai sendiri baik oleh masyarakat setempat, pemerintah maupun perguruan tinggi lain yang kebetulan juga melakukan PBA.

Permasalahan tidak berhenti sampai disini..penunjukan dosen sebagai Dosen Pembimbing Lapangan juga mengalami kendala yang sangat berarti karena jujur aku katakana tidak banyak orang yang mau bersakit-sakit dahulu, artinya dosen yang awalnya setuju mendampingi mahasiswa, satu persatu dengan berbagai alas an mengundurkan diri. Akhirnya aku memberanikan diri membimbing mahasiswa untuk lokasi terjauh dan tersulit. Empat kabupaten di Pulau Madura menjadi wilayah kerjaku.Subhanallah….kemudahan-kemudahan aku dapatkan selama kegiatan berlangsung tanpa mengurangi permasalahan-permasalahan yang ada meski bagi orang lain sangat berat. Aku ingat ketika ada seorang polisi yang mengatakan “Ibu itu melebihi orang Madura”. Ini terlontar ketika di tengah malam buta saya dengan membawa (setir) mobil carteran sendiri tersesat dalam perjalanan dari   Pamekasan ke Bangkalan.

Inilah sepenggal kisah perjalanan sebuah kegiatan yang benar-benar bisa merubah “wajah dunia” kita dan dunia sesungguhnya..dengan bekal tekad kuat “Ifdak binafsih” “mulailah dari diri sendiri” untuk berbuat dan “cinta” maka semua halangan rintangan yang  menyertai setiap langkah akan berujud sebagai kekuatan yang luar biasa. Inilah hidup yang sesungguhnya, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

(Dikisahkan oleh wiwien widyawati rahayu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Album Foto PBA UGM
Free Photo Albums by Bravenet.com
Buku Tamu PBA UGM
Free Guestbooks by Bravenet.com

ShoutMix chat widget
Free Calendar from Bravenet.com Free Calendar from Bravenet.com