
Salahsatu isu utama ketika memasuki era millenium ketiga adalah persoalan keaksaraan (literacy). Pada 2006 lalu, UNESCO menetapkan keaksaraan menjadi salah satu kegiatan utama program "Pendidikan untuk Semua" atau Education for All (EfA).Wiwien Widyawati Rahayu, Koordinator Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara UGM mengatakan, Bagi UNESCO, kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan faktor penting dan kondusif guna mendukung keberhasilan program lain.
"Dengan membaca, menulis dan berhitung, masyarakat secara bersama akan mampu melaksanakan program pengentasan kemiskinan, pengurangan angka kematian bayi, pengendalian jumlah penduduk, pencapaian kesetaraan jender, pembangunan berkelanjutan, penciptaan perdamaian dan pembangunan demokrasi," papar Wiwien di Pendopo Bupati Gunungkidul, Kamis (22/1). Sebagai research university dan kampus bervisi kerakyatan, lanjut Wiwien, UGM terpanggil untuk berperan aktif dalam isu global ini. "Peran itu adalah pemberantasan buta aksara yang dilakukan Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara (PLM PBA)," imbuhnya.
Dari program ini, katanya, berhasil diluluskan 9.882 Aksarawan Baru dengan tingkat kelulusan mencapai 92,47% dari 10.687 peserta ujian. "Dengan demikian sejak tahun 2006, jumlah warga belajar yang berhasil dimelek-aksara-kan melalui KKN PPM PBA maupun PLM PBA mencapai 27.882 orang," katanya. PLM PBA UGM yang dilaksanakan sejak 1 November 2008 hingga 22 Januari 2009, melibatkan 9 orang Dosen Pembimbing Tutor (DPT), 134 orang Mahasiswa Tutor (Mator) dan 1000 orang Tutor Lokal (Turlok). Dengan 11.129 Warga Belajar (WB) yang tersebar di dua Propinsi, DIY dan Jateng pada empat Kabupaten, Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Wonosobo dan Purbalingga serta di 15 Kecamatan.(sumber: beritajogja.com)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar