Bagi UNESCO, kemampuan membaca, menulis dan berhitung masyarakat secara bersama akan mampu melaksanakan program pengentasan kemiskinan, pengurangan angka kematian bayi, pengendalian jumlah penduduk, pencapaian kesetaraan gender, pembangunan berkelanjutan, penciptaan perdamaian dan pembangunan demokrasi. Demikian dikatakan Wiwien Widyawati Rahayu pada penutupan Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara UGM. Selaku Koordinator Pelaksana program itu, dirinya mengemukan sebagai ''research university'' dan perguruan tinggi bervisi kerakyatan, UGM terpanggil untuk berperan aktif dalam isu global itu.
''Inilah peran itu, yaitu agenda pemberantasan buta aksara yang dilakukan Program Layanan Masyarakat Pemberantasan Buta Aksara (PLM PBA), yang merupakan pengembangan dari KKN PPM PBA yang telah dilakukan UGM selama ini,'' ujarnya, di pendopo Kabupaten Gunungkidul, Wonosari Yogyakarta saat acara penutupan program bersangkutan.
Dari program itu, katanya pula, berhasil diluluskan 9.882 aksarawan baru dengan tingkat kelulusan SUKMA I mencapai 92,47% dari 10.687 peserta ujian. Dengan demikian sejak tahun 2006, jumlah warga belajar yang berhasil dimelek-aksara-kan melalui KKN PPM PBA maupun PLM PBA mencapai 27.882 orang.Ditambahkannya, PLM PBA UGM yang dilaksanakan sejak 1/11/2008 hingga 22/1/2009 itu melibatkan 11.129 warga belajar (WB) yang tersebar di dua Propinsi, DIY dan Jateng di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Wonosobo dan Purbalingga serta di 15 Kecamatan.
Adapun beberapa kegiatan pendukung yang telah dilakukan antara lain pembekalan kepada DPT dan Mator serta Bimbingan Teknis (Bintek) untuk Turlok yang dilaksanakan secara bertahap di Kabupaten Gunungkidul meliputi wilayah Kecamatan Wonosari, Playen, Tepus, Ngawen, Gedangsari, Tanjungsari dan di Kabupaten Bantul yang berlangsung di pendopo SKB Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul. ''Untuk Kecamatan Semin dan Girisubo telah dilaksanakan. Sementara untuk pembekalan Tutor Lokal di Purbalingga di Kecamatan Kutasari dan Mrebet dilakukan juga bersamaan pembekalan di Wonosobo di Kecamatan Sapuran dan kalijajar. Kegiatan lainnya yang juga dilakukan adalah pembagian paket ajar untuk warga belajar dan Turlok,'' tambah dosen FIB UGM dalam laporannya.
Program Layanan Masyarakat (PLM) Pemberantasan Buta Aksara UGM itu ditutup secara resmi oleh Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan non Formal dan Informal Regional DIY dan Jawa Tengah, Dr H Ade Kusnadi MPd. Dan dengan ditutupnya kegiatan itu, Ade berharap muncul program lain sejenis yang mendukung. Tampak hadir pada penutupan program tersebut Wakil Bupati Hj Badingah SSos dan jajaran Muspida Gunungkidul, para dosen pendamping tutor, mahasiswa tutor, para tutor lokal dan para warga belajar.(sumber: suaramerdeka.com)


0 komentar:
Poskan Komentar